ESAI

SOCIETY 5.0 DAN KERINGAT OJOL: Menguji Empati dan Estetika Humanisme di Tengah Pusaran Algoritma

Oleh: A. F. Fiermanto | Mahasiswa Informatika, Universitas Siber Asia

Pendahuluan

Revolusi Industri 4.0 telah mengubah wajah peradaban manusia secara fundamental. Konvergensi antara dunia fisik, digital, dan biologis yang ditenagai oleh Internet of Things (IoT), Big Data, dan Artificial Intelligence (AI) telah menciptakan efisiensi yang belum pernah terbayangkan sebelumnya. Segala sesuatu kini berada di ujung jari.

Namun di balik segala kemudahan dan kecepatan tersebut, muncul sebuah ironi yang mengkhawatirkan. Semakin tinggi teknologi yang kita ciptakan, semakin rentan kita kehilangan esensi kemanusiaan kita. Sebagai respons terhadap kekhawatiran bahwa Industri 4.0 akan mendegradasi peran manusia, pemerintah Jepang pada tahun 2019 menggagas konsep Society 5.0. Konsep ini menawarkan sebuah tatanan masyarakat yang berpusat pada manusia (human-centered) dan berbasis teknologi (technology-based). Dalam Society 5.0, teknologi tidak lagi menjadi tuan yang mendikte kehidupan, melainkan menjadi alat yang diabdikan sepenuhnya untuk memecahkan masalah sosial, menciptakan kesejahteraan, dan meningkatkan kualitas hidup manusia.

Tapi kalau kita lihat kenyataan di lapangan dan interaksi warga sehari-hari, konsep Society 5.0 ini rasanya masih jauh dari harapan. Salah satu potret paling nyata dari kegagalan kita saling memanusiakan di era digital dapat dilihat dari fenomena gig economy, khususnya pada profesi pengemudi ojek online (ojol) dan kurir ekspedisi. Melalui kacamata humanisme, esai ini akan membedah bagaimana algoritma dan layar kaca telah menciptakan sekat yang mengikis empati, serta bagaimana kita harus mengembalikan nilai kemanusiaan melalui Kecerdasan Emosional dan Mindfulness.

Realita Pahit di Balik Layar Aplikasi

Sebagai seorang mahasiswa Informatika yang sehari-hari bekerja sebagai freelance programmer, saya memahami betul bagaimana sistem digital, database, dan algoritma bekerja. Namun sebagai seseorang yang di masa lalu pernah merasakan kerasnya aspal jalanan, bekerja serabutan, dan memeras keringat di lapangan, saya melihat sisi gelap dari sistem yang saya pelajari ini.

Aplikasi ojek online adalah karya fenomenal Industry 4.0. Ia mampu memproses jutaan data secara real-time, mempertemukan supply dan demand dalam hitungan detik. Akan tetapi, kecanggihan antarmuka pada aplikasi tersebut secara tidak sadar telah membuat kita kurang berempati. Konsumen yang duduk nyaman di ruangan ber-AC seringkali lupa bahwa titik GPS yang bergerak lambat di layar ponsel mereka adalah manusia nyata. Manusia yang mungkin sedang berteduh dari hujan badai, menahan lapar, atau kendaraannya sedang bermasalah.

Sistem rating yang awalnya diciptakan untuk quality control kini sering disalahgunakan. Hanya karena pesanan terlambat sepuluh menit atau karena kesalahan sistem restoran, seorang pelanggan dengan mudahnya memberikan bintang satu yang berakibat pada putusnya mata pencaharian sang pengemudi. Di sinilah letak kegagalan literasi manusia. Kita terlalu sibuk mengejar literasi digital, namun gagap dalam membaca situasi emosional sesama.

Emosi Sesaat dan Hilangnya Empati

Fenomena ini bukan sekadar anggapan, melainkan pola yang terus berulang di media sosial. Salah satu contoh nyata terjadi di Yogyakarta pada akhir Juni 2026, ketika seorang pelanggan kecewa karena satu dari tiga pesanan makanannya tidak lengkap. Ia lalu melampiaskan kekesalan melalui pesan bernada emosional kepada driver yang sebenarnya hanya bertugas mengantarkan, bukan menyiapkan pesanan. Belakangan diketahui kekurangan pesanan itu murni kelalaian pihak restoran, namun kesalahpahaman sudah telanjur memicu eskalasi emosi hingga videonya viral, sebelum akhirnya Polresta Yogyakarta turun tangan memediasi kedua belah pihak hingga berdamai.

Pola serupa seperti pelanggan memaki kurir karena pesanan Cash on Delivery (COD) tidak sesuai, atau penumpang emosi karena driver salah jalan terus bermunculan silih berganti. Ini adalah bukti nyata dari krisis Kecerdasan Emosional. Daniel Goleman, bapak Kecerdasan Emosional, menegaskan bahwa IQ saja tidak cukup untuk membuat seseorang menjadi manusia yang utuh. Seseorang butuh EQ yang matang, mulai dari paham emosi diri sendiri, bisa mengontrol diri, punya motivasi, mampu berempati, sampai pandai berbaur dengan sesama.

Dalam kasus semacam ini, terjadi kegagalan fatal pada pilar pengaturan diri dan empati. Secara fisiologis, fenomena ini dapat dijelaskan melalui teori Anger Management. Ketika seorang pelanggan merasa kecewa atau ekspektasinya tidak terpenuhi, otak menerima sinyal ancaman atau ketidaknyamanan. Sinyal ini langsung ditangkap oleh Amygdala, yakni bagian otak primitif yang berfungsi memproses emosi reaktif. Dalam hitungan per sekian detik, Amygdala melepaskan hormon yang memicu ledakan amarah. Kondisi ini disebut sebagai Amygdala Hijack.

Saat Amygdala membajak otak, bagian Prefrontal Cortex yang bertanggung jawab atas pemikiran logis dan pertimbangan etis menjadi lumpuh sementara. Akibatnya, pelanggan bertindak impulsif, menanggalkan sopan santun, dan meluapkan agresi verbal kepada kurir. Reaksi ini bersifat tanpa pertimbangan sama sekali. Jika individu tersebut memiliki EQ yang tinggi, ia akan mampu menahan reaksi tersebut, membiarkan Prefrontal Cortex mengambil alih, dan menyadari bahwa memaki kurir adalah tindakan yang salah sasaran dan tidak logis.

Berpikir Ulang Sebelum Memberi Bintang Satu

Dunia digital mendidik kita untuk menuntut segala sesuatu secara instan. Kita ingin makanan datang dalam 15 menit, kita ingin pesan dibalas dalam hitungan detik. Ketergesaan inilah yang membunuh ruang bagi empati. Untuk melawan arus ketergesaan ini, kita membutuhkan pendekatan Mindfulness. Mindfulness adalah keadaan mental yang dicapai dengan memusatkan kesadaran sepenuhnya pada saat ini, dengan tenang mengakui dan menerima perasaan, pikiran, dan sensasi tubuh tanpa menghakimi.

Dalam konteks interaksi antara konsumen dan pekerja gig economy, Mindfulness adalah kunci. Sebelum jari kita mengetikkan caci maki di kolom chat aplikasi atau sebelum menekan tombol bintang satu, Mindfulness mengajarkan kita untuk melakukan jeda. Sebuah jeda sejenak untuk menarik napas dan bertanya pada diri sendiri: Apakah keterlambatan ini murni kesalahan driver? Apakah cuaca di luar sedang buruk? Apakah adil jika saya menghancurkan periuk nasinya hanya karena emosi sesaat saya?

Praktik Mindfulness menghindarkan kita dari benak yang penuh ego dan amarah. Dengan kesadaran penuh, kita bisa melihat kembali sisi manusiawi sang pengemudi. Kita menyadari bahwa di balik jaket hijaunya yang lusuh, ia adalah seorang ayah yang sedang mencari nafkah untuk anaknya, atau seorang suami yang sedang berjuang di tengah kerasnya ekonomi, sama seperti kita.

Mulai dari Diri Sendiri

Pada akhirnya, mewujudkan Society 5.0 tidak bisa hanya mengandalkan regulasi pemerintah atau pembaruan sistem dari perusahaan teknologi. Perubahan harus dimulai dari unit terkecil, yaitu diri kita sendiri. Memimpin diri sendiri itu intinya soal bisa menahan ego, mengelola emosi dengan baik, dan berani menanggung akibat dari apa yang kita lakukan, baik di dunia nyata maupun internet. Di titik inilah Kecerdasan Spiritual (SQ) jadi penentu arah biar kita enggak hilang kendali.

SQ tidak selalu berbicara tentang ritual keagamaan, melainkan tentang pencarian makna, nilai luhur, dan kebijaksanaan. Seseorang dengan SQ yang tinggi akan memandang keringat seorang pekerja kasar bukan sebagai sesuatu yang hina atau bisa dibeli dengan murah, melainkan sebagai bentuk perjuangan hidup yang harus dihormati.

Sebagai seorang freelancer yang juga mengelola usaha digital printing, saya mempraktikkan nilai ini dengan cara memberikan kelonggaran bagi pelajar yang kesulitan membayar biaya cetak tugas, atau bersabar mendengarkan revisi desain dari pelanggan. Sikap pragmatis dan perfeksionis dalam pekerjaan (IQ) harus selalu diimbangi dengan kelembutan hati (EQ) dan integritas (SQ). Jika kita bisa memanusiakan pelanggan kita, mengapa kita tidak bisa memanusiakan kurir atau pengemudi ojol yang melayani kita?

 Penutup

Revolusi Industri 4.0 telah memberikan kita alat yang luar biasa canggih, namun alat tersebut tidak memiliki nurani. Konsep Society 5.0 hadir untuk mengingatkan kita bahwa manusia adalah subjek utama, bukan objek dari teknologi. Fenomena kurangnya empati terhadap pekerja ojek online dan kurir yang terus berulang dari satu kota ke kota lain adalah alarm keras bahwa masyarakat kita sedang krisis kemanusiaan.

Untuk mengembalikan nilai kemanusiaan di era digital ini, kita harus menyatukan Kecerdasan Intelektual (IQ) dengan Kecerdasan Emosional (EQ) dan Kecerdasan Spiritual (SQ). Kita harus melatih diri untuk mencegah Amygdala Hijack melalui praktik Mindfulness dan meredam amarah. Algoritma sehebat apa pun tidak akan pernah bisa mengeluarkan keringat, merasakan lelah, atau meneteskan air mata. Oleh karena itu, mari gunakan teknologi untuk memudahkan kehidupan, bukan untuk mematikan empati.

Sudah sepatutnya kita menghargai tiap tetes keringat para pekerja di jalanan. Sebab pada akhirnya, ukuran kemajuan Society 5.0 bukan dinilai dari seberapa canggih AI yang berhasil kita buat, melainkan seberapa kuat kita menjaga empati dan rasa kemanusiaan di tengah gempuran teknologi.

REFERENSI / SUMBER RUJUKAN

  1. Modul Pembelajaran Universitas Siber Asia. Estetika Humanisme Sesi 1: Human Literacy & Filsafat Kemanusiaan.
  2. Modul Pembelajaran Universitas Siber Asia. Estetika Humanisme Sesi 3: Personality Studies & Self Concept.
  3. Modul Pembelajaran Universitas Siber Asia. Estetika Humanisme Sesi 5: Emotional Intelligence (Kajian Manajemen Emosi menurut Daniel Goleman).
  4. Modul Pembelajaran Universitas Siber Asia. Estetika Humanisme Sesi 6: Mindfulness and Focus (Kesadaran Diri di Era Digital).
  5. Modul Pembelajaran Universitas Siber Asia. Estetika Humanisme Sesi 7: Anger Management (Fisiologi Amygdala & Prefrontal Cortex, Teknik Regulasi Emosi).
  6. Modul Pembelajaran Universitas Siber Asia. Estetika Humanisme Sesi 11: Leadership; Seni dan Gaya Kepemimpinan (Kepemimpinan Diri Sendiri).
  7. Modul Pembelajaran Universitas Siber Asia. Estetika Humanisme Sesi 14: Industry 4.0 & Society 5.0 (Masyarakat Berpusat pada Manusia – Human Centered).
  8. Polresta Yogyakarta. (2026, 24 Juni). Sempat Viral di Medsos, Polresta Yogyakarta Sukses Mediasi Damai Kasus Salah Paham Driver Ojol dan Pelanggan. Diakses dari https://jogja.polri.go.id/
Show More

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button