Esai

KECERDASAN EMOSIONAL DI TENGAH LEDAKAN INFORMASI DIGITAL: Belajar mengendalikan emosi dan tetap manusiawi di ruang digital

Oleh: Ilham Rifa'i | Mahasiswa Informatika - Universitas Siber Asia

Perkembangan media sosial membuat setiap orang semakin mudah menyampaikan pendapat. Apa yang sebelumnya hanya dibicarakan secara langsung, sekarang dapat ditulis dan dibagikan kepada banyak orang hanya dalam hitungan detik. Sebuah komentar, keluhan, maupun tanggapan yang awalnya ditujukan kepada satu orang dapat berubah menjadi perhatian publik ketika tersebar di media sosial.

Kondisi tersebut sebenarnya memberikan banyak manfaat. Masyarakat dapat menyampaikan kritik, memperoleh informasi, dan menyuarakan pengalaman yang mereka alami. Namun, kemudahan dalam berkomunikasi juga memiliki sisi lain. Tidak sedikit orang yang menulis atau memberikan komentar ketika sedang marah, kecewa, atau tersinggung tanpa terlebih dahulu memikirkan akibat dari perkataannya.

Hal inilah yang membuat kecerdasan emosional menjadi semakin penting. Kemampuan seseorang dalam mengendalikan emosi bukan hanya diperlukan dalam kehidupan pribadi, tetapi juga dalam berkomunikasi dengan orang lain, termasuk ketika menggunakan media sosial. Sebagai mahasiswa Informatika, saya melihat bahwa perkembangan teknologi seharusnya tidak hanya diikuti dengan kemampuan menggunakan perangkat dan sistem digital. Penggunanya juga harus memiliki kemampuan untuk menggunakan teknologi secara bijak.

Ketika Keluhan Berubah Menjadi Sorotan

 Peristiwa yang melibatkan Yurizal Tri Chaerawan menunjukkan bagaimana persoalan komunikasi dapat berkembang menjadi perhatian masyarakat luas. Berdasarkan bahan kasus yang digunakan dalam artikel ini, Yurizal menyampaikan keluhan mengenai pelayanan rumah sakit yang dialaminya dan mengaitkannya dengan penggunaan BPJS Kesehatan. Keluhan terhadap pelayanan pada dasarnya dapat dipandang sebagai bentuk penyampaian pengalaman sekaligus kritik.

Persoalan kemudian berkembang ketika seorang tenaga kesehatan memberikan tanggapan yang dinilai kasar dan tidak pantas. Tanggapan tersebut tidak lagi hanya menjadi percakapan antara pihak yang memberikan keluhan dengan pihak yang memberikan respons. Setelah tersebar di media sosial, masyarakat ikut memberikan reaksi. Dampaknya bahkan merembet kepada institusi tempat tenaga kesehatan tersebut bekerja.

ss_rs

Tangkapan layar tersebut memperlihatkan bagian dari percakapan yang menjadi bahan pembahasan. Peristiwa ini menunjukkan bahwa sebuah respons yang diberikan ketika emosi sedang tinggi dapat membawa persoalan ke ruang publik. Ketika komunikasi sudah tersebar, dampaknya tidak mudah dikendalikan karena orang lain dapat menyimpan, membagikan, dan menafsirkannya dari sudut pandang masing-masing.

Mengelola Emosi Sebelum Memberikan Respons

 Kecerdasan emosional pada dasarnya berkaitan dengan kemampuan seseorang dalam mengenali, memahami, dan mengendalikan emosinya. Seseorang yang memiliki kecerdasan emosional bukan berarti tidak pernah marah, kecewa, atau tersinggung. Perasaan tersebut tetap muncul karena merupakan bagian dari manusia. Perbedaannya terletak pada bagaimana seseorang merespons perasaan tersebut.

Ketika seseorang sedang marah, misalnya, ia tetap memiliki pilihan untuk langsung membalas perkataan orang lain atau memberikan waktu kepada dirinya untuk menenangkan diri terlebih dahulu. Pilihan sederhana tersebut dapat menghasilkan dampak yang sangat berbeda. Dalam komunikasi di media sosial, kemampuan untuk berhenti sejenak sebelum memberikan respons merupakan bentuk sederhana dari pengendalian diri.

Kemampuan menahan diri bukan berarti seseorang tidak mempunyai keberanian untuk menyampaikan pendapat. Justru sebaliknya, pengendalian emosi membuat seseorang dapat menyampaikan pendapat dengan lebih baik dan tidak merugikan dirinya sendiri maupun orang lain.

Nilai Kemanusiaan dalam Cara Berkomunikasi

 Jika dikaitkan dengan mata kuliah Estetika Humanisme, peristiwa tersebut memberikan pemahaman bahwa keindahan tidak hanya berkaitan dengan sesuatu yang dapat dilihat secara fisik. Keindahan juga dapat terlihat melalui sikap dan perilaku manusia.

Seseorang mungkin memiliki pendidikan yang tinggi, kemampuan teknologi yang baik, atau kedudukan yang penting. Namun, semua itu belum cukup apabila tidak disertai dengan kemampuan menghargai manusia lainnya. Kesantunan dalam berbicara, kemampuan mengendalikan emosi, dan kemauan untuk memahami orang lain merupakan bagian dari keindahan karakter manusia.

Dalam konteks ini, teknologi seharusnya digunakan untuk memperkuat hubungan antarmanusia, bukan menjadi sarana untuk melampiaskan emosi. Kemampuan menggunakan media sosial tanpa kehilangan rasa empati merupakan salah satu bentuk penerapan humanisme di tengah perkembangan teknologi.

Membangun Kebiasaan Berkomunikasi yang Lebih Bijak

 Menghadapi komunikasi digital yang semakin cepat, ada beberapa kebiasaan sederhana yang dapat dilatih dalam kehidupan sehari-hari.

Pertama, kenali keadaan emosi diri sendiri. Jika sedang marah atau kecewa, berikan waktu kepada diri sendiri untuk tenang sebelum memberikan respons. Kedua, pikirkan kembali kata-kata yang akan disampaikan. Pertanyaan sederhana seperti “Apakah kalimat ini perlu disampaikan?” atau “Apakah perkataan ini dapat menyakiti orang lain?” dapat membantu seseorang mempertimbangkan tindakannya.

Ketiga, cobalah melihat persoalan dari sudut pandang orang lain. Kita tidak selalu mengetahui seluruh keadaan yang sedang dihadapi seseorang. Keempat, sadari bahwa setiap perkataan memiliki konsekuensi. Apa yang ditulis di media sosial dapat dilihat oleh banyak orang dan berpotensi menyebar lebih jauh dari yang kita bayangkan.

Bagi mahasiswa Informatika, hal ini menjadi pelajaran yang penting. Kemampuan teknologi harus berjalan bersama dengan kemampuan memahami manusia. Semakin mudah teknologi digunakan untuk menyampaikan sesuatu, semakin besar pula tanggung jawab penggunanya dalam menjaga apa yang disampaikan.

Ketika Satu Respons Memberikan Dampak Luas

Peristiwa pelayanan yang kemudian menjadi perhatian masyarakat tersebut memberikan pelajaran bahwa masalah tidak selalu menjadi besar karena persoalannya, tetapi terkadang menjadi semakin besar karena cara manusia merespons persoalan tersebut. Marah, kecewa, dan tersinggung merupakan hal yang manusiawi. Namun, manusia memiliki kemampuan untuk memilih bagaimana perasaan tersebut akan diwujudkan.

Di tengah perkembangan media sosial, kemampuan berpikir sebelum berbicara menjadi semakin penting. Sebuah komentar mungkin hanya membutuhkan beberapa detik untuk ditulis, tetapi dampaknya dapat berlangsung jauh lebih lama. Oleh karena itu, menjaga ucapan bukan berarti membatasi kebebasan berpendapat, melainkan menunjukkan bahwa kita memahami tanggung jawab atas apa yang kita sampaikan.

Dari sudut pandang Estetika Humanisme, keindahan manusia tidak hanya terlihat dari penampilan, pengetahuan, maupun kecanggihan teknologi yang dimilikinya. Keindahan juga tercermin dari cara seseorang memperlakukan manusia lainnya. Pada akhirnya, teknologi boleh semakin maju, tetapi nilai kemanusiaan tidak boleh tertinggal. Kecerdasan emosional, empati, kesantunan, dan kemampuan mengendalikan diri merupakan bagian dari sikap yang perlu terus dibangun agar manusia tidak hanya menjadi semakin pintar, tetapi juga semakin beradab.

Daftar Pustaka
Goleman, D. (2015). Kecerdasan Emosional. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.

Rosanah. (2025). Sumber video referensi Estetika Humanisme. https://www.youtube.com/watch?v=qWBE08TXkKs

Tangkapan layar media sosial terkait peristiwa RSUD Inche Abdoel Moeis Samarinda, Juli–Agustus 2026.
Show More

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button