Esai

KULI PROYEK, BURNOUT, DAN GENGSI RUANG DIGITAL: Sebuah Refleksi

Oleh: Jonathan Amin Peres Djutallo | Mahasiswa Informatika - Universitas Siber Asia

Ironi Lelah Fisik vs Lelah Mental

Baru-baru ini, linimasa media sosial kita sering kali diramaikan oleh perdebatan mengenai fenomena flexing (pamer kekayaan atau pencapaian) dan hustle culture (budaya gila kerja tanpa henti). Di satu sisi, media sosial memotivasi orang untuk terus produktif, namun di sisi lain, hal ini melahirkan generasi yang rentan mengalami kelelahan mental yang ekstrem. Mengutip laporan dari Kompas.com dalam artikelnya yang berjudul “Hustle Culture dan Ancaman Burnout pada Generasi Muda” (2023), disebutkan bahwa tekanan untuk selalu terlihat sukses, produktif, dan sempurna di ruang digital justru menjadi bumerang yang menghancurkan kesehatan mental, memicu kecemasan (anxiety), hingga berujung pada burnout (kelelahan emosional dan fisik yang parah).

Sebagai seseorang yang pernah merasakan kerasnya kehidupan sebagai pekerja serabutan dan kuli proyek, lalu kini bertransisi mahasiswa PJJ (Pendidikan Jarak Jauh), saya menemukan sebuah ironi yang luar biasa.

Dulu, saat saya harus mengaduk semen dan mengangkat bata di bawah terik matahari, tubuh saya memang hancur dan pegal luar biasa,sama halnya ketika saya ojek saya harus putar keliling mencari penumpang dari pagi sampai sore. Namun, setelah mandi dan tidur malam, lelah itu hilang. Esok harinya saya bisa tertawa lagi bersama rekan-rekan sesama kuli atau teman-teman ojek. Sebaliknya, di era digital saat ini, ketika saya duduk di ruangan yang nyaman, menatap layar laptop untuk  mengerjakan tugas Learning Management System (LMS), lelah yang datang justru jauh lebih mematikan. Lelah ini tidak hilang hanya dengan tidur. Mengapa? Karena yang diserang bukanlah otot fisik, melainkan mental dan konsep diri kita. Melalui kacamata Estetika Humanisme, esai ini akan membedah bagaimana gengsi di ruang digital merusak identitas kita, dan bagaimana Mindfulness menjadi jalan keluar dari jerat burnout.

Distorsi Konsep Diri (Self-Concept) di Etalase Digital

Dalam kajian Personal Studies, pembentukan identitas seseorang sangat bergantung pada Self-Concept (Konsep Diri). Sosiolog Charles Cooley pernah memperkenalkan teori “Looking Glass Self” (Cermin Diri), yang menyatakan bahwa kita membangun identitas diri berdasarkan bagaimana kita membayangkan orang lain menilai kita.

Di era sebelum media sosial merajalela, “cermin” kita adalah keluarga, teman nyata, atau mandor di tempat kerja. Penilaian mereka didasarkan pada realitas fisik: apakah kita bekerja keras, apakah kita jujur, dan apakah kita bertanggung jawab. Namun hari ini, “cermin” itu telah digantikan oleh layar smartphone. Kita membangun Self-Image (Citra Diri) dan Self-Ideal (Diri Ideal) berdasarkan standar semu yang diciptakan oleh algoritma Instagram, TikTok, atau LinkedIn.

Ketika seorang anak muda melihat teman sebayanya mem- posting pencapaian membeli mobil baru, ngopi di kafe mahal, atau memamerkan portofolio proyek IT bernilai jutaan rupiah, secara otomatis Self-Esteem (Harga Diri) mereka akan terganggu jika mereka merasa belum mencapai hal yang sama. Gengsi ruang digital memaksa kita untuk memakai “topeng” (Persona) agar terlihat sukses. Kita memaksakan diri bekerja siang dan malam (hustle culture) bukan lagi murni untuk bertahan hidup atau menafkahi keluarga, melainkan untuk memvalidasi eksistensi kita di mata followers yang bahkan sebagian besar tidak peduli pada kita. Distorsi konsep diri inilah yang menjadi akar dari burnout.

Ketika Emosi Dibajak oleh FOMO

Mengapa lelah mental akibat gengsi digital jauh lebih berbahaya daripada lelah fisik menjadi kuli proyek? Jawabannya terletak pada mekanisme otak kita.

Saat bekerja di proyek, ancaman yang dihadapi adalah ancaman fisik, misalnya takut tertimpa material, cedera karena penggunaan mesin dan lain sebagainya. Otak meresponsnya dengan kewaspadaan fisik. Namun, saat kita berselancar di media sosial dan mengalami FOMO (Fear of Missing Out / Takut Tertinggal), ancaman yang ditangkap oleh otak adalah ancaman psikologis terhadap status sosial kita.

Sinyal ancaman ini ditangkap oleh Amygdala, pusat emosi reaktif di otak. Amygdala tidak bisa membedakan antara ancaman fisik seperti dikejar harimau dengan ancaman sosial (merasa gagal karena melihat postingan teman yang sukses). Akibatnya, otak terus-menerus melepaskan hormon stres seperti kortisol dan adrenalin. Kondisi siaga terus-menerus inilah yang membuat kita mengalami burnout. Kita kehilangan fokus, mudah marah (Anger Management yang buruk), dan kehilangan kemampuan berpikir jernih karena Prefrontal Cortex (pusat logika) kita lumpuh akibat kelelahan emosional.

Antitesis dari Gengsi dan Ketergesaan Digital

Lantas, bagaimana kita sebagai manusia modern yang tidak mungkin lepas dari teknologi bisa bertahan dari gempuran gengsi digital ini? Jawabannya ada pada praktik Mindfulness (Kesadaran Penuh).

Menurut Dr. Jon Kabat-Zinn, Mindfulness adalah keadaan mental yang dicapai dengan memusatkan kesadaran seseorang pada saat ini (present moment), dengan tenang mengakui dan menerima perasaan, pikiran, dan sensasi tubuh tanpa menghakimi (non-judgmental).

Dalam rutinitas saya yang padat, Mindfulness adalah obat kewarasan saya. Ketika saya mulai merasa insecure melihat pencapaian orang lain di internet, atau ketika kepala rasanya mau meledak karena deadline yang menumpuk, saya mempraktikkan fondasi Mindfulnes: Letting Go (Melepaskan) dan Acceptance (Penerimaan).

Mindfulness mengajarkan saya untuk tidak menjadi “Mind Full” (benak yang penuh dengan sampah ekspektasi digital). Dengan berfokus pada masa kini, saya menyadari bahwa nilai diri saya tidak ditentukan oleh seberapa banyak likes yang saya dapatkan, melainkan oleh seberapa nyata saya hadir untuk keluarga saya, seberapa jujur saya melayani pelanggan printing saya, dan seberapa gigih saya menyelesaikan pendidikan saya.

Kesimpulan

Kemajuan teknologi dan ruang digital adalah sebuah keniscayaan. Namun, membiarkan diri kita terseret dalam arus gengsi, flexing, dan hustle culture adalah sebuah pilihan yang bisa kita tolak. Lelah fisik sebagai kuli proyek mengajarkan saya tentang kejujuran dalam bekerja, sementara lelah mental di era digital mengajarkan saya tentang pentingnya menjaga kewarasan.

Melalui pendekatan Estetika Humanisme, kita diajak untuk kembali memanusiakan diri kita sendiri. Kita harus membangun Self-Concept yang positif dari dalam diri, bukan dari validasi eksternal di media sosial. Praktik Mindfulness dan regulasi emosi adalah perisai utama kita untuk mencegah burnout.

Pada akhirnya, orang yang paling hebat bukanlah mereka yang etalase media sosialnya paling mewah, melainkan mereka yang mampu mengendalikan dirinya, menerima kekurangannya, dan tetap melangkah maju di dunia nyata dengan kesadaran penuh. Mari kita letakkan sejenak layar smartphone kita, bernapaslah, dan kembalilah hidup di dunia nyata.

REFERENSI:
  1. Kompas.com. (2023). "Hustle Culture dan Ancaman Burnout pada Generasi Muda". Diakses dari portal berita online Kompas.com.
  2. Modul Pembelajaran Universitas Siber Asia. Estetika Humanisme Sesi 3: Personality Studies & Self Concept (Kajian Konsep Diri dan Looking Glass Self).
  3. Modul Pembelajaran Universitas Siber Asia. Estetika Humanisme Sesi 6: Mindfulness and Focus (Fondasi Mindfulness menurut Jon Kabat-Zinn).
  4. Modul Pembelajaran Universitas Siber Asia. Estetika Humanisme Sesi 7: Anger Management (Fisiologi Amygdala dan Regulasi Emosi).
  5. Modul Pembelajaran Universitas Siber Asia. Estetika Humanisme Sesi 12: Psikologi Humanistik (Aktualisasi Diri dan Penerimaan Diri).
Show More

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button